oleh

Sebelas Kali Ditolak Pemerintah, Justru Dipuja Google

Infoindo.id – Seorang siswa SMA melakukan penelitian yang 11 kali ditolak pemerintah, tapi justru karyanya dipuja-puja oleh Google.

Ketika suatu hari dirinya sedang akan mengunduh sebuah game yang sangat ingin dimainkannya.

Namun sayang, seperti masalah kita pada umunya, download pun terhambat oleh kuota yang terbatas.

Christoper pun memutar otak, memikirkan bagaimana caranya mengecilkan ukuran game tersebut agar bisa diunduh dengan cepat dan dimainkan.

Christoper pun akhirnya mencari tahu literatur tentang data compression atau pemampatan data.

Ia mengaku bahwa di Indonesia sendiri belum ada yang melakukan riset atau penelitian tentang hal tersebut.

Padahal menurut pendapatnya pemampatan data sangat menguntungkan bagi semua jenis kalangan.

Contohnya saja hal yang paling sederhana yang akan dilakukan Christoper tadi, yaitu mengunduh game.

Lalu ia mencoba menyempurnakan temuannya dalam sebuah proposal.

Jika dihitung-hitung sudah lebih dari satu kali dirinya mengirimkan proposal penelitiannya tersebut, dalam ajang lomba antar regional maupun nasional.

Ditolak hingga 11 kali, sebelum dipuja Google

Namun, ia telah ditolak sejumlah beberapa kali penelitian tersebut setelah ia kirimkan.

Hal ini sangat jarang sekali terjadi di tanah air, yang kita tahu, biasanya mereka gembar-gembor dan merasa kesal jika karyanya tidak diterima.

Terlebih lagi oleh bangsa sendiri dan akhirnya memutuskan untuk mencoba mengirimkannya ke luar negeri.

Lain halnya dengan Christoper, ia menyebutkan bahwa penelitiannya yang berjudul Data Compression Using EG and Neural Network Algorithm for Loseless Data ini mungkin terlalu rumit dan sulit sehingga banyak yang kurang mengerti.

Ia pun bertekad bahwa akan memudahkan dan memperbaiki penelitiannya yang sudah ia kerjakan selama satu tahun tersebut.

Supaya lebih banyak lagi kalangan yang bisa lebih mengerti apa yang dirinya presentasikan.

Christoper bahkan mencontohkan = pengalaman yang telah dialami oleh Thomas Alva Edison.

“Edison saja 1.000 kali gagal, masak saya yang baru 11 kali saja sudah menyerah,” ungkapnya.

Atas kegigihan dan sikap pantang menyerahnya pun membuahkan hasil positif bagi dirinya.

Ketika ia melihat pengumuman mengenai kompetisi penelitian yang digelar oleh Google.

Setelah dinyatakan lolos seleksi berkas, dirinya masih harus melewati tahap berikutnya yaitu wawancara hingga akhirnya dapat panggilan dari kantor Google di Amerika Serikat.

Awalnya ia mengaku kebingungan mengenai uang saku serta transport untuk kesana.

Beruntung ada sponsor dengan suka rela dan baik hati sehingga visa dan transport pun ditanganinya dalam waktu sekejap.

Komentar

News Feed